Fusce suscipit varius mim sociis natoque penatibus et magnis dis.

Just A Simple Blog, From A Simple Man

"Gunakan Semua Bakat dan Karunia yang Anda Miliki Untuk Perbaikan Masyarakat, Perbaikan Dunia dan Kebaikan Sesama
Inilah caranya melakoni hidup dalam doa"
~ Anand Krishna 




Membicarakan kematian lebih menarik ketimbang mengalami kematian itu sendiri, lidah bisa dengan mudahnya berfilsafat menguntai kata memuaskan pikiran tentang kematian, tetapi kematian itu sendiri tidak pernah bisa dicerna lewat filasafat.

Bibirku lebih pandai berfilsafat tentang kematian, daripada nyaliku sendiri,dan ketika kematian baru memunculkan sedikit wajahnya akupun ketakukan.
Ngeri,

Kepengecutan jiwa Nampak jelas ketika  harus berhadapan dengan kematian, belum-belum berhadapan, hanya baru menyaksikan bayang-bayangnya saja aku sudah tiarap.

Jika ku perhatikan nyamuk jauh lebih bernyali dari pada aku, nyamuk ngga punya takut, dia menclok, kemudian mengigit dan kemudian terbang jika ada yang menepuk. Kalau apes ya nyamuk mati gepeng, namun nyamuk tetap berani menyongsong kematiannya, setiap hari nyamuk harus berhadapan dengan maut sewaktu mencari makan.

Namun nyamuk tetap gegap gempita,  dia tidak bersembunyi-sembuyin sewaktu mencari makan, meski nyamuk sendiri tahu bahwa taruhannya adalah mati. Dia tetap nguing-nguing sewaktu mau menggigit, mungkin nyamuk lebih sadar dari pada aku, bahwa kematian bukan merupakan sebuah akhir.
Mungkin nyamuk jauh lebih mengerti tentang kematian dibandingkan aku.