Fusce suscipit varius mim sociis natoque penatibus et magnis dis.

Just A Simple Blog, From A Simple Man

"Gunakan Semua Bakat dan Karunia yang Anda Miliki Untuk Perbaikan Masyarakat, Perbaikan Dunia dan Kebaikan Sesama
Inilah caranya melakoni hidup dalam doa"
~ Anand Krishna 




Kesunyian membawa langkah kakiku pada wujud kehidupan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, pada ruang dimana segalanya terlalu abstrak tuk dicerna oleh akalku yang dangkal. . . .

Kesunyian juga membuka mataku untuk melihat wujud di balik wujud. Di balik jubah. Kesunyian juga membawa langkah kakiku menjauhi para suci amatir yang menyuruhku berperang dan menebarkan kebencian, ah, sontoloyo. “Hidup sudah susah malah dibuat susah!, Gembel!. Makiku waktu itu. Apakata mak-ku jika beliau tahu putranya ini menjadi pembunuh, KAFIR!, ah biar saja aku tak peduli. MASUK NERAKA!, masa bodo, biar api neraka memanggangku, tetapi aku tak mau jadi pembunuh.”

Bagiku jubah tak penting lagi, jikalau engkau bertanya kepadaku, apakah di dalam perjalananku yang aneh luar biasa ini, aku berpapasan dengan para suci. Tidak  hanya berpapasan, mujur aku sempat duduk, tidur makan dan menghirup udara bersama para suci.

Meski tak banyak yang dapat aku serap karena kedangkalanku, tak ada yang dapat aku gambarkan tentang para suci, persepsiku tentang para suci runtuh. Para suci dapat kau temui dalam balutan jubah yang berbeda, tapi satu yang tak pernah bisa ditutupi adalah getar kedamaian yang meyeretmu tuk sekedar duduk dan menghirup udara bersama-Nya.

Jika engkau bertemu dengan seorang suci, menurutmu. Dan kau merasakan bahwa jika bersamanya, kau berada seperti di rumah. Nyaman, dalam kenyamanan rumah. Jika kau adalah seorang perantau maka, kau akan mengerti rasanya ‘nyaman berada di rumah;, maka jangan kau tinggalkan Ia. Jika kau merasakan rasa seperti itu jangan kau tinggalkan Ia.

Sering, mungkin akan amat sering Ia memakimu,  kau akan mengerti jika nanti suatu saat seorang suci mengomelimu. DASYAT !. Dunia serasa runtuh, engkau ingin menjauhinya. Engkau menjadi takut, tetapi hanya tuk sejenak. Jika kau menjauhi-Nya, jujur, kejujuranmu diperlukan bahwa engkau akan merindui-Nya. Engkau akan merindui-Nya.

Aku tak tahu apakah kesunyian atau nasib baik, atau apa. Yang mempertemukanku dengan para suci, tetapi satu yang aku tahu pertemuan itu hanya merupakan langkah awal. Langkah berikutnya harus ku tempuh, kerja keras harus ku tempuh. Menginterprestasikan ajaran-Nya ke dalam prilaku, bukan hanya di dalam otak, khayal dan mimpi.