Fusce suscipit varius mim sociis natoque penatibus et magnis dis.

Just A Simple Blog, From A Simple Man

"Gunakan Semua Bakat dan Karunia yang Anda Miliki Untuk Perbaikan Masyarakat, Perbaikan Dunia dan Kebaikan Sesama
Inilah caranya melakoni hidup dalam doa"
~ Anand Krishna 




Pagi menjelang, sinar terang mentari memupuskan pedar-pedar mimpi malam tadi, mimpi indah, mimpi buruk semua tergerus oleh sinar mentari, namun tidak mimpi Shinda kencana. Mimpi buruk yang sudah menemaninya selama beberapa tahun terakhir ini, mimpi buruk tentang amarah dan dendam. Tidak pagi, tidak siang, tidak juga sore. Tertidur atau terjaga, Shinda tetap hidup dengan mimpinya, mimpinya tetap hidup.

 

Diseruputnya teh hangatnya,

 

Dirasakan penat tubuhnya, tidurnya tidak cukup nyenyak untuk memberikan syaraf-syaraf waktu untuk beristirahat, beberapa bulan ini ia sering merasakan migren memukul-mukul kepalanya dengan keras sekali. Di tatapnya tembok lurus kedepan, seolah-olah tatapnya itu ingin menjebol tembok, digali-galinya pikiran dirasakannya ia berlari-lari di pantai berpasir tiada ombak, tiada bertepi, berlari dan terus berlari . . . . .

 

 

 

Diputar-putar cangkir tehnya, sambil memutar benak menyusun siasat untuk menghubungi hakim Barry Sesongko, ilmu NLP sudah dikuasai olehnya. Ilmu ini sebenarnya dipergunakan oleh para therapis untuk melakukan pendekatan kepada kliennya agar dapat lebih dalam mencari akar permasalahan yang dialami oleh si klien, namun ditangan yang jahat ilmu ini bisa disalah gunakan. Sama seperti ilmu hypnotheraphy yang dapat dimanfaatkan untuk membantu trauma seseorang atau membantu mengatasi kebiasaan buruk, atau ditangah seorang theraphis yang tak bertanggungjawab ilmu hypnotheraphy bisa dipergunakan untuk menamam sebuah ingatan palsu, Shinda merinding sendiri jika dia mengingat perlakukan mereka terhadap Tari.

 

“Untung itu anak ngga jadi gila” gumamnya sambil bergidik.

 

Shinda menarik nafas dalam, satu .. dua .. tiga detik ditahannya di dalam rongga dada sebelum dihembuskannya, ada rasa ganjil di dalam lubuk sanubarinya yang mengerogoti alam jaganya, seolah-olah berkata “Hey.. apa yang sedang kamu lakukan ?, tidak kah kau ingat bahwa setiap kejahatan sebutir debu akan dibalas dengan kejahatan sebutir debu, dan kebaikan sebutir debu akan dibalas dengan kebaikan sebutir debu”

 

Sekali lagi Shinda menarik nafas, satu.. dua.. tiga… ditahannya di dalam ronga dada, kemudian menghembuskannya, seolah dia ingin menghalau getar-getar kesadaran yang sayup-sayup lemah mulai merongrongnya. Pedar-pedar binar kesadaran itupun kembali terkurung di dalam ruang gelap sudut hati, meski sesekali ia menggeliat mengetuk-ngetuk alam jaga.

 

*

 

Siang hari sesudah makan siang,

 

Aku memandang handphone, jemari tangan siap menekan nomor hakim Barry Sesongko, namun ada keraguan, ah, ku buang nafas. Mengelus –elus ujung rambut, dan mempermainkannya dengan jemari. Kemudian aku mengambil BB, dan mulai menuliskan pesan lewat BBM ke hakim Barry Sesongko.

 

Oya, mungkin kalian sudah kenal dengan diriku, namaku Shinda Kencana.

 

“Pak Hakim lagi ngapain pak ?” jemariku menekan tombol send

 

Pesan terkirim, dua menit,

Tiga menit,

Lima menit,

Tak ada balas,

Kemudian ku tekan “PING”

Pesan terkirim, dua menit

Tiga menit,

Lima menit,

Tak ada balas,

“Ughkkkk. . .” aku mendegus sambil mengepalkan kelopak tangan keudaraan,

“Jual mahal amat nih si hakim tua ini”

Wringgggg, BBM berbunyi

Aku melihat pesan yang masuk,

“Baru habis makan siang, sedang memperiapkan diri untuk bersidang”

“O… pantes lama balesnya. Sidang apa pak?”

“Ah, biasa lah, sidang sehari-hari”

“Hehehehe sibuk terus dong “

“Ya namanya juga hakim, kalau tidak sibuk tukang parkir namanya”

“Hihihi bapak bisa ajah”

“Ada apa BBM, saya malas lho sebenarnya balas BBM kalau ngga penting-penting banget”

Aku merengut, “Belagu” gumaku dalam hati, kembali aku mengetikan tut-tut BB menuliskan pesan

“Ndak, gimana kalau kita ketemuan yuk pak, makan-makan”

“Wah itu melanggar aturan dong”

“Yak-an aturan dibuat untuk dilanggar pak”

“Ah jangan suka begitu, nanti kamu bermasalah dengan hukum”

“Lha – kan ada bapak yang dapat melindungi saya dari kesulitan hukum”

Aku mulai melakukan penetrasi dengan lembut dan menggoda, seperti yang sudah di dapatkannya dari kursus kilat NLP.

“Hehehehe jangan begitu, nanti kamu ketagihan”

Jebret !, pak hakim masuk perangkap,

“Mampus luh” pekik batin Shinda

“Kalau yang begitu ketagihan juga ngga apa-apa”

“Waduh…. Kaya udah nyoba ajah”

“Kan ngebayangin, juga udah keberasa”

“Waduh……”

“Kok Waduh mulu sih pak”

“Iya jadi keberasa juga”

“Gimana pak ketemuan yuk, makan-makan”

“Wah kalau di depan public saya ngga berani”

“Ya udah kalau gitu di mobil ajah, kita jalan-jalan, sambil makan-makan juga ngobrol-ngobrol”

“Hmmmm…. Gimana yah”

“Ayo dong pak, apa bapak ngga kepingin waduh lagi ?”

“Waduh”

“Tuh kan Waduh lagi, Cuma kan kalai di ketik waduhnya tidak enak pak”

“Ya sudah nanti saya hubungi lagi, saya mau sidang. Nanti malah tidak konsen”

“Ya deh, met sidang yah pak”

“Oya Rabu kamu datang ke pengadilan”

“Ya datang dong pak, kan pengen ngeliat bapak”

“Waduh . . .  .  ya sudah sampai melihat hari rabu”

“Cee U bapak hakim”

Hubungan berakhir.

“Ganjen” makiku dalam hati sambil meletakan BB di meja, aku  kembali masuk ke alam pikiraku, “eh, seru juga yah” pekik batinku,

 

Sudah lama tidak merayu-rayu seperti itu, jadi inget waktu di sekolah dulu. Akupun cengegesan sambil membayangkan apa yang terjadi pada pak Hakim Barry Sesongko, kemudian jemariku menekan nomor telpon Albrony.

 

“Ya bagaimana” Suara Albrony menyahut disana,

“Beres sepertinya musang sudah mulai masuk perangkap”

“Jadi mau dia ketemu” Albrony penasaran

“Belum tapi dia mulai genit”

“Hahaha bagus itu, namanya juga dia bujangan dijakarta sendirian, Jablay, jadi dapat hembusan angin wangi dikit langsung beringasan”

Aku tertawa,

“Tak salah prediksi saya mengenai ini orang, oke lanjutkan !”

“Beres!”

“Saya sedang mengurus bagaimana agar kamu dan lainnya bisa masuk ke ruang sidang, kita harus dapat mematai-matai jalannya persidangan agar manuver kubu Andra dapat kita patahkan.”

“Bagaiaman caranya?” ganti aku yang penasaran, Albrony ini emang jagonya kalau menyusun rencana bulus, gak ada duanya,

“Sudah biar itu akau yang atur, tugasmu memasukan musang ke dalam sarung eh… kandang hahahahahah”

“Siap” aku cekikikan juga, mulai menikmati permainan ini

“Jangan sampai gagal, musang itu adalah kuncinya”

“Mengerti”

“Oke yah, kalau ada kemajuan telpon saya”

“Oke”

Hubungan telpon terputus.

*

 

Bersambung . . . .  .