Fusce suscipit varius mim sociis natoque penatibus et magnis dis.

Just A Simple Blog, From A Simple Man

"Gunakan Semua Bakat dan Karunia yang Anda Miliki Untuk Perbaikan Masyarakat, Perbaikan Dunia dan Kebaikan Sesama
Inilah caranya melakoni hidup dalam doa"
~ Anand Krishna 




Baru sekitar 15 menit dalam perjalanan dari pengadilan Jakarta Selatan, telponku sudah bergetar, ku lirik ternyata itu panggilan dari Shinda Kencana. Aku diamkan sejenak, berpikir harus bicara apa, pastinya dia marah-marah jika mengetahui pemeriksaan di dalam persidangan tadi.

 

Aku bersiap-siap menerima telpon Shinda Kencana, menarik nafas, dan mengatur nada suara. “Ya hallo, kenapa ?”

“Gimana … gimana persidangannya, lancar sesuai rencana ?”

“Lancar dong”

“Bagus…. Bagus…. Gimana respon hakim ?”

“Ya seperti katamu waktu itu , majelis hakim ini rada sulit percaya sama cerita kita, terlebih lagi hakim ketuanya, dia mencecar terus”

“Tapi bisa diatasi-kan?!”

“Ya tentu”

“Bagus . . Bagus…. Biar mampus si Andra Krishna itu, pokoknya target kita dia dipenjarkan, begitu dia dipenjarakan pak Albrony berjanji mengucurkan dana yang cukup besar, dan nanti bagian mu bisa kamu pergunakan untuk pencalonanmu, oke ngga ?!”

“Ya oke dong, ngga sabar”

“Sabar dong, kan orang sabar di sayang Tuhan”

Keduanya tertawa cekikikan,

Kemudian Shinda Kencana melanjutkan, “ya sudah, kamu laporan dong ke pak Albrony”

“Ya nanti aku telpon atau email, sekarang aku mau cari makan dulu”

“Oke duaaccchhhhh”

“Duaaacccchhhh…. Cup .. cup”

 

 

 

Sambungan telpon terputus, namun tidak benak Sarasdiba yang menari-menari menyusuri rentang pikir yang tiada batas, dirasakan olehnya kepalanya sakit berdenyut-denyut.

 

*

 

Membaca berita di internet membuat kepada Albrony terasa penat, nampak skenenario yang digagasnya menjadi kusut. Berkali-kali dia memaki, di dalam lubuk sanubarinya dia mulai bertanya-tanya kenapa upayanya menjatuhkan Andra Krishna selalu gagal, selalu menemukan jalan berat yang berakhir pada kesia-siaan.

 

Albrony memaki,

 

Selama Andra Krishna belum dipenjarakan maka selama itu pula lah dana segar belum mengucur, melihat dari perjalanan persidangan proses tersebut masih membutuhkan waktu. Benak Albrony menari-nari ke waktu silam dimana rencanya nyaris berhasil memenjarakan Andra Krishna, dia tersenyum-senyum mengenang kejeniusan rencananya.

 

“Ayolah Shin… berkorban sendikit tidak masalah, demi tercapainya tujuan kita menghancurkan Andra Krishna dan padepokannya”

“Tapi ini gila Pak!, masak saya harus menyerahkan diri saya ke hakim itu, mana dia sudah tua begitu”

“Bukan dirimu Shin, tapi cuma tubuhmu, sedikit ajah Shin, cuma pegang-pegang sama raba-raba”

“Tidak pak ! !”

Keduanya terdiam, Albrony berpikir sejenak, sebelum dia kembali berkata.

 

“Lantas kamu mau semua ini gagal, ingat Shin rencana kita ini tidak memiliki bukti yang kuat. Kita sama-sama tahu kalau pelecehan seksual itu harus memiliki 3 orang saksi, sekarang kita cuma punya 1 saksi. Dan satu saksi itu bukanlah saksi Shin”

“Kalau pun Andra Krisna sampai di majukan ke persidangan itu semua karena manuverku memanfaatkan situasi dan jasa-saja teman-temanku Shin, namun hal itu dapat pupus seketika jika hakim mengetahui ini semua hanya rekayasa”

 

Albrony menarik nafas, mengatur ritme pembicaraan. Memberikan ruang agar kata-katanya dapat tercerna dengan baik oleh Shinda Kencana.

Kemudian dia melanjutkan,

 

“Kamu sendiri sudah mendengar dari Jaksa Marliana bahwa hakim ketua pernah mengatakan bahwa ini semua dagelan”

 

Albrony kembali diam memberikan ruang agar benak Shinda Kencana dapat mencerna kata-katanya, nampak jelas sekali bahwa Albrony menguasai tehnik dalam mempengaruhi orang, dari caranya dia berbicara dan mengatur ritme pembicaraan nampak jelas bahwa Albrony menguasai tehnik tersebut dengan baik. Albrony sendiri adalah mantan intelejen yang semenjak intansinya dibubarkan, Albrony mulai bergerilya bekerja berdasarkan pesanan untuk melakukan infiltrasi ke sebuah ornganisasi dan melakukan pembusukan dari dalam, dan itu pulalah yang di lakukan di Andra Ashram, sebuah organisasi spititual pertama dan satu-satunya di Indonesia yang sudah diakui oleh dunia international.

 

Shinda Kencana masih terdiam dipermainkan oleh pikirannya sendiri, insting Albrony mengatakan bahwa Shinda sedang ragu, dan itu bagus, kemudian dia masuk dengan penetrasi yang lebih dalam namun tetap teratur ritmenya.

 

“Bayangkan Shin kamu akan ketimpa malu kalau si Andra sialan itu tidak sampai masuk buih, karena berita sudah tersebar bahwa kamu juga mendapatkan tindak pelecehan, malu Shin, apa kata orang nantinya. Apa lagi kalau si Andra itu sampai nulis buku dan buka mulut bahwa semua ini adalah rekayasa, wah mau taruh dimana muka mu itu Shin”

Shinda Kencana menarik nafas panjang, menahannya sejenak di rongga dada dan menghembuskannya perlahan, ditatap wajah Albrony dalam-dalam, seolah-olah Shinda ingin mencari tahu apa yang ada di dalam kepala botak Albrony.

 

Albrony pun melanjutkan penetrasinya, “Satu-satunya jalan adalah memenjarakan si Andra Krishna dengan segala cara Shin, dan hakim ketua ini adalah jalan masuknya”

 

Albrony tertawa terpingkal-pingkal mengenang semua itu, betapa jeniusnya dia. Dia sengaja membujuk agar Shinda Kencana dan Sarasdiba agar mengaku telah mendapatkan tindak pelecehan, dan mengumumkannya kemedia-media termasuk Sutinah istri Gandra. Dengan demikian Albrony memiliki kartu As, jika mereka ragu atau ingin mundur, atau tidak bersedia mengikuti kemauannya dia akan memainkan kartu As ini.

 

Kartu As inilah yang sedang diamainkan oleh Albrony untuk mempengaruhi Shinda Kencana, untuk memperalat Shinta Kencana agar mengikuti kemauannya.

 

Beberapa saat kemudian, Shinta Kencana berkata, “jadi aku harus apa”

 

Albrony terbahak-bahak, “gampang itu-lah, cukup kasih sedikit belahan payu dara dan paha juga dandanan menor. Namun sebelumnya kamu karus kursus NLP dulu untuk memuluskan siasat kita ini agar pak Hakim bertekuk lutut dan mau mengikuti kemauan kita”

 

“NLP? Apa itu”

 

Albrony tertawa kembali, “Neuro-Linguistic Programming, adalah sebuah ilmu untuk mempegaruhi pikiran orang, pikiran orang dipengaruhi oleh panca indrainya, melalui NLP ini kita akan turut mempegaruhi panca indra orang yang kita bidik sambil terus melakukan pendekatan-pendekatan dengan komunikasi verbal, dan melalui stimuli lewat panca indra dan komunikasi verbal maksud dan tujuan kita dapat lebih mudah mencapai tujuan, sudah di jamin sukses. Dan mudah kok, Cuma beberapa minggu koq, tapi butuh sedikit dana dari rekeningmu”

 

“Lho kok pakai uang ku ?”

 

“Lah iya lah, tidak ada pendidikan yang gratis, Cuma sedikit kok ngga banyak-banyak, ngga akan buat kamu miskin”

Shinda terdiam sedang mencoba mencari kata-kata untuk mengelak memberikan uang,

 

“Tenang Shin begitu si Andra dipenjarakan dana mengucur, maka uangmu akan kembali plus bonus tentunya, terlebih lagi dendammu akan kesampaian”

“Oke nanti malam aku transfer”

“Good girl” Seringai Albrony.

 

Satu hal yang tidak disadari oleh Shinda Kencana waktu itu dan juga waktu-waktu sebelumnya dimana Albrony mencoba mempengaruhi dirinya untuk ikut di dalam rencana menghancurkan Andra Krishna adalah Albrony sedang mempraktekan NLP, tidak hanya kepada Shinta melainkan ke semua orang yang bersedia mendukung rencananya.

*

Bersambung . . . . .