Fusce suscipit varius mim sociis natoque penatibus et magnis dis.

Just A Simple Blog, From A Simple Man

"Gunakan Semua Bakat dan Karunia yang Anda Miliki Untuk Perbaikan Masyarakat, Perbaikan Dunia dan Kebaikan Sesama
Inilah caranya melakoni hidup dalam doa"
~ Anand Krishna 




Bagi pendosa yang jahat, aku mungkin terlihat jahat. Tetapi bagi yang baik, betapa luhurnya aku.

(Mirza Khan, Anshari)

 

Muhiddin Abu Abdullah Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Abdullah Hatimi at-Ta’i (28 Juli 1165-16 November 1240) adalah seorang pejalan yang disegani, pemikiran-pemikirannya sering kali mengobrak-abrik tatanan pemahaman formal pada massanya. Banyak orang yang simpati kepadanya dan mengakui kebenaran tentang apa yang diungkapnya, namun kemudian tidak berani mendukung Ibnu Arabi. Tidak berani membela apa yang sedang disampaikan oleh Ibnu Arabi, meski mereka mengakui akan kebenaran apa yang Ibnu Arabi sampaikan.

Seorang pemuka agama pernah mengakatan, “Aku sama sekali tidak meragukan bahwa Muhyiddin (Ibnu Arabi) adalah seorang pembohong besar. Ia adalah pemuka kalangan ahli bid’ah dan seorang Sufi yang tidak tahu malu.”

 

 

Namun disisi lain seorang teolog besar, Kamaluddin Zamlaqani menegaskan, “Betapa bodohnya mereka yang menentang Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi! Pernyataannya yang sublim dan tulisannya yang bernilai itu terlalu tinggi bagi pemahaman mereka.”

Sering kali kita mengatakan seseorang sesat dan mengumbar kata-kata bid’ah hanya karena kita tidak memahami apa yang sedang diungkapkan oleh orang tersebut, seperti seorang pelajar dibangku sekolah dasar tentunya akan kebingungan sendiri jika melihat obrolan para pelajar yang sudah duduk dibangku kuliah. Seperti orang yang belum pernah merasakan cinta, tentu akan pusing sendiri mendengar ungkap cinta dari seorang yang sedang kasmaaran.

Ibnu Arabi mampu melihat kejelitaan dari setiap jiwa manusia, oleh karena itu sering kali dia membuat puisi yang berisikan kejelitaan seorang wanita yang dikaitkan dengan kejelitaan yang maha yang tak pernah dapat dijelaskan oleh kata-kata.

Diketahui oleh Ibnu Arabi bahwa kejelitaan manusia akan selalu berkaitan dnegan kejelitaan Illahi, oleh karenya dia pernah berkata “Seorang cantik adalah karya seni Ilahi”.

Banyak para agawaman pada waktu itu yang menolak puisi-puisi Ibnu Arabi sebagai suatu uangkapan atas keagunan illahi, mereka berpendapat bahwa puisi-puisi tersebut hanyalah skandal belaka.

Apapun yang dikatakan oleh orang tentang dirinya tidak pernah membuat Ibnu Arabi berhenti merangkaikan kata mengungkapkan pemahaman mistisnya melalui puisi-puisi, puisi-puisinya begitu indah, namun tetap terasa tajam menusuk. Seperti salah satu puisinya dibawah ini yang sempat membuat gerah kalangan agamawan formal pada massa itu.

“Hatiku bisa menjelma berbagai bentuk:

Sebuah biara bagi pendeta, dupa untuk berhala,

Sebuah padang rumput bagi rusa-rusa.

Aku lah Ka’bah bagi orang-orang yang shalat,

Lembaran-lembaran Taurat dan al-Qur’an.

Cinta adalah agama yang kupegang: ke mana pun.

Kendaraan dalam melangkah, Cinta tetap agama dan keyakinanku.”

Ibnu Arabi sangat dikenal dengan konsep Wihdatul Wujud-nya. Ia mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang wujud kecuali Tuhan. Segala yang ada selain Tuhan adalah penampakan lahiriah dari-Nya.

Keberadaan makhluk tergantung pada keberadaan Tuhan, atau berasal dari wujud ilahiah. Manusia yang paling sempurna adalah perwujudan penampakan diri Tuhan yang paling sempurna, menurutnya.

Ibnu Arabi menghasilkan sekitar 300 buku, Ibnu Arabi menjadi inspirasi sejumla pejalan salah satunya adalah Hamzah Fansuri, seorang pejalan yang banyak menghabiskan waktu di  Aceh.

 

= =

Jakarta, 26 Juli 2012 – Dirangkum dari berbagai sumber.