Fusce suscipit varius mim sociis natoque penatibus et magnis dis.

Just A Simple Blog, From A Simple Man

"Gunakan Semua Bakat dan Karunia yang Anda Miliki Untuk Perbaikan Masyarakat, Perbaikan Dunia dan Kebaikan Sesama
Inilah caranya melakoni hidup dalam doa"
~ Anand Krishna 




jakarta_at_nightAzan magrib berkumandang, membahana mengisi ruang kosong batin. Jalanan kian padat, wajah resah tak sabar menunggu antrian. Lampu-lampu telah dinyalakan, Jakarta menjelang malam bermandikan sinar.

Gemerlap, seolah berlomba menunjukan elok warnanya. Jakarta malam bermandikan sinar ribuan watt mengalahkan sinar lembut rembulan, wajah resah masih mengisi ruang. Di antara debu, di antara deru aku berdiri. Ah, alangkah sia-sianya cahaya gemerlap ribuan watt yang menghias wajah Jakarta, penghuninya sibuk dengan urusannya sendiri. Tak ada yang sadar akan keindahan Jakarta pada malam hari.

Semua sibuk berpacu dengan dirinya, dengan nafsunya.
Mesin-mesin menderu mengisi volume udara dengan bising.
Membanjiri oksigen dengan karbon co2.
Pikiran yang saling getar sahut menyahut membuat kebisingan tersendiri.

Namun cahaya gemerlap Jakarta seolah tak terpengaruh oleh deru hiruk dan bising yang mengisi ruang dan waktu. Di antara deru dan debu aku masih berdiri. Masih menikmati cahaya gemerlap yang menghiasi Jakarta malam itu. Tanpa peduli ribuan bohlam lampu aneka warna terus memancarkan cahayanya mengisi ruang. Merah tak pernah iri karena kebetulan biru lebih terang dari dirinya. Hijau santai-santai saja meski sinarnya makin meredup, semua berjalan  tanpa konflik, tanpa beban. Karena semua hanya saling mengisi. Semua menyadari  akan kefanaan sang waktu, beberapa belasan jam kemudian ketika listrik dipadamkan, ketika mentari mulai menggeliat,  semuanya harus tertidur. Andai kata ada pemilik lampu yang lupa mematikan aliran listrik, sinar mentari akan meredukan pijar lampu. Dapatkah pijar lampu menyombongkan dirinya dihadapapan sang surya ?.

Kesibukan telah membuat kita buta, bahwa sesungguhnya keindahan menyelimuti kehidupan kita. Aneh, kita membangun Jakarta, menghiasi Jakarta dengan segenap kemewahan ribuan watt cahaya, namun kita tak pernah menikmati keindahan itu. Bahkan kita tak pernah menyadari bahwa semua itu adalah indah.

Aku masih disini di antara debu dan deru.
Menatap kesia-siaan dalam hidup.
Kemana semua yang kau kumpulkan akan berlabuh ?
Engkau akan berpisah dengan apa yang kau kejar hari ini, kehidupan akan membawamu, juga aku. Kita semua pada pelabuhan kematian. Kematian akan menjemputmu, tanpa pemberitahuan. Tidakah kau ingin menikmati keindahan ini?,  Bersamaku boleh. Bersama kekasihmu pun tak mengapa. Sendiripun tak ada yang menyalahkan.

Diam, dan nikmatilah wahai jiwa. 
Diam, dan sandarkan pundakmu sejenak.
Rebahkan beban itu
Tanggalkan jubah itu
Diam
Diam
Dalam ketelanjangan, kita nikmati malam ini dalam gemerlap cahaya ribuan watt Jakarta. Kesibukanmu telah membutakan matamu tuk melihat semua keindahan ini, kau mencari keindahan ke kota orang padahal dikotamu sendiri bermandikan cahaya.  

Tak perlu bicara, tak usah komentar. Diam, dan nikmati keindahan malam ini. Karena mungkin, hanya kemungkinan saja esok engkau akan mati. Ah, alangkah menyedihkannya. Karena engkau akan masuk pada ruang gelap menanti datangnya kiamat. Tak ada satupun yang tahu kapan kiamat akan datang.

Dan dalam ketak-pastian itu, engkau berdiam sendiri, menanti. Tak ada lagi cahaya ribuan watt yang dapat kau nikmati. Mungkin di sana karena engkau alim, engkau bertemu dengan malaikat, tetapi tetap saja engkau sudah tak lagi dapat menikmati ribuan watt cahaya.

Atau,
Mungkin.
Justeru engkau dapat menikmatinya. Karena engkau tak pernah kemana-mana, engkau masih tetap disini. Bersamaku.