Fusce suscipit varius mim sociis natoque penatibus et magnis dis.

Just A Simple Blog, From A Simple Man

"Gunakan Semua Bakat dan Karunia yang Anda Miliki Untuk Perbaikan Masyarakat, Perbaikan Dunia dan Kebaikan Sesama
Inilah caranya melakoni hidup dalam doa"
~ Anand Krishna 




“Ketaatan sejati adalah demi ketaatan itu sendiri, bukan karena mengharap surga atau takut pada neraka”

(Rabi’ah al-Adawiyah)

 

Malam ini aku bertanya pada diriku sendiri, kira-kira sudah berapa jumlah orang yang mati bunuh diri karena berharap akan masuk surga?. Lagi-lagi benakku bertanya pada diriku sendiri, kira-kira sudah berapa banyak orang yang terbunuh hanya karena yang membunuh itu ingin masuk surga ?.

Jawabanku, sudah tak terhitung jumlahnya.

 

 

Ah, surga.

Sebuah jebakan maut bagi jiwa-jiwa yang memendam harap.

Teringat sebuah lirik lagi dari John Lennon, lirik lagu yang aku pikir akan selalu abadi karena mencerminkan kondisi di dunia ini.

“Imagine there’s no heaven

It’s easy if you try

No hell below us

Above us only sky

Imagine all the people living for today”

Jikalau saja kita tidak lagi berharap akan masuk surga kelak dikemudian hari setelah ruh berpisah dari jasad, melainkan mau merasakan dan mampu mewujudkan surga sekarang juga – saat ini juga dimana ruh dan jasad masih bersatu.

Jikalau surga dapat dirasakan dimuka bumi ini – sekaran,  neraka sudah tidak lagi menjadi momok yang menakutkan, karena sepanjang mata memandang yang terhampar adalah kerajaan Tuhan.

Tak perlu berlomba-lomba lagi berpamer ria kebajikan dihadapan Tuhan, untuk apa ?. Toh sudah ada di dalam surga, semua kebajikan yang dilakukan memang harus dilakukan. Dilakukan karena itu adalah baik untuk semuanya, bukan karena ingin masuk surga atau takut masuk ke neraka.

Lagi kalau dipikir-pikir dengan lebih mendalam lagi, “Apa Tuhan itu bener-bener butuh semua kebajikan yang kita persembahakan kepadaNya ?”. Atau jangan-jangan semua kebajikan yang kita perbuatan itu sebenarnya bukan untuk siapa-siapa melainkan hanya untuk kebaikan diri kita sendiri.

Biarkan surga menjelma di dalam kehidupan, dan neraka akan tergusur dengan sendirinya. Sepeti fajar yang menyingsing menggusur kegelapan malam.

Alasan kita mengejar surga dan berharap akan surga karena kita sedang hidup di dalam neraka, ada kesengsaraan yang sedang mendera kehidupan yang diakui atau pun tidak. Saking merasa sengsaranya sekarang ini, di dunia ini. Kita-pun mencari pelampiasan ke tempat lain dengan menghamburkan harapan keapda surga, “Biarlah sengsara sekarang, tapi ntar di akherat kan gua masuk surga”.

Mulla Nasaruddin tak tahan dan menyeletuk, “Apa jaminannya boss ?”.

Yup apa jaminannya ?.

Untuk itu diperlukan upaya untuk membalikan kondisi kesadaran, salah satunya adalah dengan puasa. Menurut Guruku, puasa adalah duduk diam bersama Tuhan sehingga rasa lapar terlupakan.

Duduk diam dan merasakan Tuhan. Duduk diam bersabar diri menunggu Tuhan menyentuh jiwa, duduk diam dan lapar terlupakan bersama Tuhan.

Selama ini kesadaran kita selalu menuju ke paling bawah yaitu makanan, untuk itu diberikan latihan berupa puasa agar dapat menaikan kesadaran. Untuk kembali dapat merasakan Tuhan, sekarang dan saat ini juga. Sehingga surga akan menghampar dimuka bumi ini dan kesengsaraan akan sirna dari pandangan kita.

Tak ada yang salah dengan dunia ini, yang salah adalah pandangan kita sendiri.

“Wahai orang yang tidak mengerti,

Jalan itu bukan ini dan itu!”

Omar Khayyam

 

(Selamat masuk ke dalam diri di dalam satu bulan ke depan, semoga Tuhan berkenan menyentuh hati kita semua sehingga lenyaplah illusi yang menyelimuti pandangan kita semua. Selamat duduk berdiam diri bersama Tuhan. . . . .)

Jakarta, 19 Juli 2012