Fusce suscipit varius mim sociis natoque penatibus et magnis dis.

Just A Simple Blog, From A Simple Man

"Gunakan Semua Bakat dan Karunia yang Anda Miliki Untuk Perbaikan Masyarakat, Perbaikan Dunia dan Kebaikan Sesama
Inilah caranya melakoni hidup dalam doa"
~ Anand Krishna 




Suatu kali pernah timbul pertentangan antara beberapa ekor kelelawar dan seekor bunglon. Perkelahian antara mereka sudah sedemikian sengitnya, sehingga pertentangan itu sudah melampaui batas. Para kelelawar setuju bahwa jika saat petang menjelang malam telah menyebar melalui ceruk lingkaran langit, dan matahari telah turun di hadapan bintang-bintang menuju lingkup terbenamnya matahari, mereka akan bersama-sama menyerang si bunglon dan, setelah menjadikannya tawanan mereka, menghukumnya sesuka hati dan melampiaskan dendam. Ketika saat yang dinantikan tiba, mereka menyerang dengan tiba-tiba, dan semuanya bersama-sama menyeret bunglon yang malang dan tak berdaya itu ke dalam sarang mereka. Dan malam itu mereka memenjarakannya.

Ketika fajar tiba, mereka bertanya-tanya apakah sebaiknya bunglon itu disiksa saja. Mereka semua setuju bahwa dia harus dibunuh, tetapi mereka masih merencanakan bagaimana cara terbaik untuk melaksanakan pembunuhan itu. Akhirnya mereka memutuskan bahwa siksaan yang paling menyakitkan adalah dihadapkan pada matahari. Tentu saja, mereka sendiri tahu bahwa tidak ada siksaan yang lebih menyakitkan, selain berada dekat dengan matahari; dan, dengan membuat analogi dengan keadaan mereka sendiri, mereka mengancam supaya dia memandang matahari. Bunglon itu, sudah pasti, tidak mengharapkan yang lebih baik lagi. ‘Penghukuman’ semacam itu persis seperti yang diinginkannya, sebagaimana dikatakan oleh Husayn Manshur :

“ Bunuhlah aku, kawan-kawanku, sebab dengan terbunuhnya diriku, aku akan hidup. Hidupku ada dalam kematianku, dan kematianku ada dalam hidupku”. (keterangan: baris-baris ini terdapat dalam Al-Hallaj, 14.1)

Kalau saja para kelelawar itu tahu betapa murah hati tindakan mereka terhadap bunglon itu, dan betapa mereka telah berbuat keliru, karena mereka justru memberinya kesenangan, mereka pasti akan mati sedih. Bu-Sulayman Darani berkata, “Jika orang-orang yang lalai itu tahu betapa mereka telah mengabaikan kesenangan orang-orang yang sadar, mereka pasti akan mati karena kecewa.”

Catatan :

Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi adalah salah Satu sufi yang mendapati hukuman mati karena pikiran-pikiran beliau yang keluar dari kotak pemahaman sempit para ulama dijamannya. Sesungguhnya dari jaman ke jaman kita akan mensaksikan peristiwa yang serupa. Bahwa mereka yang tengah berupaya membebaskan kita dari belenggu dogma dan doktrin yang sudah kadaluarsa akan mendapatkan tentangan yang hebat.

Dalam kisah diatas Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi bercerita tentang dirinya sendiri, konspirasi sekelompok ulama pada jamannya membuat Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi di jatuhi vonis hukuman penodaan agama, meski kemudian Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi selalu menertawakan bagaimana mungkin agama dapat dinodai ?, namun penjara akhirnya menjadi pertapaan beliau hingga akhirnya beliau dijatuhi hukuman mati.

Namun kisah hidupnya yang tertuang dalam kisah-kisah mistis akan tetap hidup dan abadi akan selalu dicari, akan selalu digali dan akan selalu memberikan inspirasi bagi para pejalan kesunyian untuk menemukan sang tautan hati.

Saya pernah bermimpi ketemu dengan ‘……’, beliau berjalan melewati saya sambil berkata ikuti jejak para pendahulumu, dan kau akan menemui aku di ujung sana. Katanya dan kemudian menghilang tinggalah jejak-jejak tapak kaki diatas pasir.

Dan salah seorang pendahulu adalah Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi mari kita ikuti jejaknya, untuk beberapa hari kedepan saya akan menghadirkan ruh beliau melalui kisah-kisah beliau , karena ruh beliau sedang ingin berdialog dengan ruh para putra-puteri pertiwi, semoga berkenan, bagi yang tidak berkenan mohon jangan mengirimkan pesan lewat inbox karena saya tidak akan membalasnya, silahkan tinggalkan komentar anda dibawah.

Jaya Indonesia ! ! !

Refrensi :

HIKAYAT-HIKAYAT MISTIS

Oleh : Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi

Syihabuddin Yahya ibn Habasyi ibn Amirak dari Suhrawardi (dekat Zanjan di Iran barat- laut), dalam tradisi mistik (tasawuf) di dunia Islam timur, dikenal sebagai Syaikh Al-Isyraq (‘Guru Pencerah – Guru Yang Mencerahkan’) menyusul aliran Isyraqiyyah dalam tasawuf dimana dia dianggap sebagai pendirinya. Dipenjara di Aleppo atas perintah putra Saladin, Al-Malik Azh-Zhahir, dan dihukum mati pada tahun 1191 dalam usia 38 tahun, dan karena inilah dia dikenal sebagai Suhrawardi Maqtul (yang dihukum mati).

 

Sumber : http://www.facebook.com/su.rahman.ful