Fusce suscipit varius mim sociis natoque penatibus et magnis dis.

Just A Simple Blog, From A Simple Man

"Gunakan Semua Bakat dan Karunia yang Anda Miliki Untuk Perbaikan Masyarakat, Perbaikan Dunia dan Kebaikan Sesama
Inilah caranya melakoni hidup dalam doa"
~ Anand Krishna 




Suatu hari ketika ‘Ali sedang berada dalam pertempuran, pedang musuhnya patah dan orangnya terjatuh. ‘Ali berdiri di atas musuhnya itu, meletakkan pedangnya ke arah dada orang itu, dia berkata, “Jika pedangmu berada di tanganmu, maka aku akan lanjutkan pertempuran ini, tetapi karena pedangmu patah, maka aku tidak boleh menyerangmu.”

“Kalau aku punya pedang saat ini, aku akan memutuskan tangan-tanganmu dan kaki-kakimu,” orang itu berteriak balik.

“Baiklah kalau begitu,” jawab ‘Ali, dan dia menyerahkan pedangnya ke tangan orang itu.

“Apa yang sedang kamu lakukan”, tanya orang itu kebingungan.

“Bukankah saya ini musuhmu?”

Ali memandang tepat di matanya dan berkata, “Kamu bersumpah kalau memiliki sebuah pedang di tanganmu, maka kamu akan membunuhku. Sekarang kamu telah memiliki pedangku, karena itu majulah dan seranglah aku”. Tetapi orang itu tidak mampu.

“Itulah kebodohanmu dan kesombongan berkata-kata,” jelas ‘Ali.

“Di dalam agama Allah tidak ada perkelahian atau permusuhan antara kamu dan aku. Kita bersaudara. Perang yang sebenarnya adalah antara kebenaran dan kekurangan kebijakanmu. Yaitu antara kebenaran dan dusta. Engkau dan aku sedang menyaksikan pertempuran itu. Engkau adalah saudaraku. Jika aku menyakitimu dalam keadaan seperti ini, maka aku harus mempertanggungjawabkannya pada hari kiamat. Allah akan mempertanyakan hal ini kepadaku.”

“Inikah cara Islam?” Orang itu bertanya.

“Ya,” jawab ‘Ali, “Ini adalah firman Allah, yang Mahakuasa,dan Sang Unik.”

Dengan segera, orang itu bersujud di kaki ‘Ali dan memohon,”Ajarkan aku syahadat.”

Dan ‘Ali pun mengajarkannya, “Tiada tuhan melainkan Allah. Tiada apa-apa selain Engkau, ya Allah.”

Catatan :

Kisah seperti ini jarang sekali diangkat dimimbar-mimbar dan dipengajian-pengajian, sesungguhnya inilah Islam. Islam berperang bukan karena haus darah tetapi karena memang kondisinya mengharuskan berperang.

Lihatlah kekuatan sang sahabat Rasul, Ali, kekuatan yang datang dari kelembutan. Hanya dia yang lembut saja yang dapat melakukan hal seperti itu, mereka yang masih keras akan mempertontonkan kekerasan.

Sahabat Rasul yang dimuliakan oleh Allah, Ali, telah mampu menegakan syahadat dengan sebenar-benarnya syahadat : “Tiada tuhan melainkan Allah. Tiada apa-apa selain Engkau, ya Allah.”
Tiada apa-apa selain Allah, Ali melihat kehadiran Allah dibalik sosok musuhnya, mereka yang masih mengotak-ngotakan Tuhan belum dapat merasakan kesatuan, belum dapat merasakan keesaan Tuhan, sehingga mengatas namakan Tuhan untuk menghacurkan ciptaan Tuhan lainnya.

Meski berperang dan menggunakan pedang kesadaran Ali berbeda dengan kita yang saat ini coba menegakan agama Allah dengan menggunakan kekerasan, kesombongan kita justeru membuktikan bahwasanya kita belum tahu apa-apa tentang Allah, jikau kita mengetahui tentang Allah tentunya kita tidak akan mengumbar kekerasan.

Seorang kakak memusuhi adiknya, bahkan memfitnahnya agar sudara yang lain menjauhi sang adik hanya karena sang adik membebaskan diri dari segala dokma dan doktrin yang sudah kadaluarsa. Ironisnya si kakak sering sekali bahkan taat melakukan ritus agama, hanya ritus, hanya sholat.
Sholat tanpa menegakan syahadat terlebih dahulu adalah percuma. Bersyahadat bukan hanya mengucapkan dibibir tetapi mengalaminya, bersyahadat adalah bersaksi. Jikalau anda menjadi saksi dipengadian anda harus mengetahui sebuah kejadian dengan sebenar-benarnya (mengalaminya sendiri), jika tidak maka anda akan disebut saksi palsu.

Perintah Allah jelas, tegakan sholat. Bukan mengerjakan sholat. Untuk menegakan sholat diperlukan pondasi yang tak lain dan tak bukan adalah syahadat. Sudahkan anda menjadi saksi yang benar ? atau kesaksian itu adalah palsu ?

Refrensi

TASAWUF MENDAMAIKAN DUNIA

Islam & World Peace: Explanation of A Sufi
oleh M.R. Bawa Muhayyaddin
Penerbit Pustaka Hidayah

 

Sumber : http://www.facebook.com/su.rahman.full