Ketika
Ketika kesadaran menguak tabir ilusi , sejuta makna berbicara dalam diam. Dalam diam, cerita terhampar.
Aku pernah di sini, bersamamu.
Kita pernah menari bersama, bertempur bersama, kita pernah membunuh dengan nafsu angkara bersama, kita juga pernah bernyanyi, kita juga pernah menangis dan tertawa bersama.
Bersama kita pernah melakukan banyak hal, bahkan semua hal, tak perduli itu baik atau buruk. Bagi kita baik dan buruk sudah tak berarti apa-apa, baik dan buruk adalah selendang sutera titihan kehidupan yang harus kita lalui, bersama
kita telah lalui masa itu.
Tetapi jiwaku tetap dahaga.
Abad-bad berlalu mengukir sendi-sendi sejarah dengan dongeng tentang peradaban, kejayaan dan kehancuran. Jiwaku yang masih dahaga mengembara, melintasi cahaya, menukik dan meliuk. Jiwaku yang masih dahaga kembali mencari labuhan, ah ! sekali lagi aku menatapmu mentari.
Ketika jiwa bermandikan cahaya, tak ada kegelapan. Semua menjadi terang, menjadi teramat indah. Tetapi, kemudian karena ketidakwaspadaan. Lorong-lorong gelap nan licin mengelincirkan aku.
Ketika kewaspadaan menurun, jebak dan lajur ilusi kehidupan memaparkan duka. Kembali dalam lorong gelap, jiwaku yang masih dahaga mengembara. Mencari cahaya, yang sejenak tadi memandikanku dengan sensasi nikmat surgawi.
Jiwaku yang masih dahaga, kembali mengapai-gapai sambil berteriak,
“Tuhan, dimana engkau ?. Sejenak tadi mataku dan mataMu saling tatap, tetapi sekarang bola-bola mataku hanya memandang gelap,
Gelap,
Dan hanya kegelapan.
Di dalam kegelapan,
Jiwaku yang masih dahaga mengapai-gapai. “Tuhan. . . Tuhan dimana Engkau?”
Ketika kewaspadaan menurun, semua menjadi kembali seperti semula. Gelap !.
Dan,
hanya kegelapan.
Senyap
Dan,
Hanya kesenyapan.
“TUHAN TOLOOOOOOONG aku ! ! ! “
| Baca Juga : |
|---|
|














