Antara Dodol, Adam, Iblis Dan Spriritual Hebat
“Sepertinya engkau sedang mencari sesuatu anak muda ?” tanya seseorang
“Ya, aku sedang mencari seorang Guru, Tilopa. Tetapi, sepertinya aku tidak akan menemui dia, kalau belum mengubah diri. Oleh karena itu, sekarang aku berhenti mencari. Aku harus menggali diri. Harus membersihkan diri. Harus mempersiapkan diri, sehingga Sang Guru bisa kuundang untuk bersemayam di dalam diri” Jawab Naropa.
“Tilopa?, kamu mencari Tilopa?. Sepertinya kamu salah mencari Guru. Dia bukan apa-apa. Siapa bilang dia seorang Guru? Dia seorang pengemis biasa. Mau cari dia sih gampang, Asal kamu tahu dia bukanlah seorang spiritualis” Jawab orang itu
Mereka berupa meyakinkan Naropa bahwa dia telah salah pilih. Naropa sempat bimbang, tetapi hanya untuk sesaat. Dia lebih percaya pada pengalaman pribadi daripada pendapat orang.
Naropa menyimpulkan pengalamannya : “Seorang siswa harus percaya penuh pada Gurunya. Hendaknya dia tidak bimbang, tidak ragu-ragu”
Hendaknya dia tidak mempercayai omongan orang. Hendaknya dia meyakini pengalaman pribadi. Dengan bekal kepercayaan itu, keyakinan itu. Naropa melanjutkan perjalannya (TANTRA YOGA – Anand Krishna – PT. Gramedia Pustaka Utama)
Seorang yang mengklaim dirinya spiritual yang sudah sangat tercerahkan yang menganggap mereka yang berada pada cakra tengah kebawah adalah spiritual palsu kembali melontarkan ejekan kepada para pejalan, para pencari yang berusaha mengikis egonya dengan memfanakan diri kepada Sang Guru dengan mengatakan meraka yang melakukan hal itu adalah dodol, karena saking lengketnya dengan guru seperti dodol.
Dia lupa dodol pun enak, dodol amat legit dan hubungan seperti itu adalah hubungan yang manis, hubungan yang legit. Ah tentu dia tidak mengetahui hal itu, karena dia sibuk mengembangkan egonya sehingga keluar kata-kata kalau para pejalan, para pencari yang mengucapkan terimakasih kepada Sang Guru dikatakan sebagai sesuatu hal yang menjijikan.
Ah, mana yang lebih menjijikan membusungkan dada dan mempertontonkan kesombongan bahwa dirinya yang paling cerah, sambil menyebarkan kata-kata bijak yang dirangkai sedemikian rupa namun di sisi lain kelakuannya memfitnah, mencemooh, penuh iri dan dengki ? atau dengan mereka yang berusaha untuk tetap menundukan egonya, dengan tetap mengikis egonya dengan cara mengucapkan Terimakasih.
Kami diajarkan oleh Sang Guru bahwasanya kami harus berterimakasih kepada semua Guru kami, ya semua Guru kami. Guru kami sewaktu di Te Ka yang mengajarkan kami pengetahuan dasar tentang banyak hal, Guru kami di es de yang mengajarkan kami membaca dan semua guru termasuk buku-buku yang kami baca, pergaluan sehari-hari, kami di ajarkan untuk membuka diri dan belajar dari apa pun, karena Ia yang Maha Mengajar selalu memberikan pengajaran bagi kita semua. Sang Guru selalu mengingatkan yang mesti kami lakukan adalah tetap membuka diri terhadap segala Sesutu kemungkinan dan selalu bersyukur.
Seberapapun hebatnya kita saat ini, seberapa pun cerahnya kita saat ini. Hal itu karena campur tangan seorang Guru. Kehebatan orang dapat dinilai dari prilakunya, kehebatan sejati adalah kehebatan manakala seseorang dapat merundukkan dirinya bukan menyombongkan dirinya. Masih terigat pelajaran dari Sang Rasul :
Konon kabarnya Iblis adalah mahluk yang sempurna, hingga ia dijuluki bayang-bayang Allah. Kemudian Allah menciptakan Adam untuk tetap membuat Iblis berkesadaran, Allah mengajarkan kepada Adam apa apa yang ia tidak ketahui, sehingga Adam berubah menjadi Insan Khamil, Insan Sempurna.
Kemudian untuk mengetes Iblis yang dianggap senior, Dan ingatlah selalu bahwa Allahpun selalu mengetes ciptaannya untuk tetap menundukan egonya, karena jika tiada ego Tuhan menjadi ada, jika ego yang ada Tuhanpun menjadi tiada.
Siiblis tersinggung, egonya terpukul. “Ah enak aja Luh Tuhan, mosok gua disuruh tunduk ama adam, anak kemaren sore, ngga sudi la yau, guakan Iblis, lebih hebat, Gua-kan bayang-bayang Allah”
Allah memerintahkan sekali lagi kepada Iblis untuk sujud kepada Adam, namun Iblis tetap menolaknya. Maka Allah mengatakan bahwa Iblis telah Kafir. Kafir adalah sifat, sifat sombong. Dan sifat sombong dapat menjangkiti siapa saja, termasuk spiritual hebat sekalipun, lihatlah Iblis kurang hebat bagaimana Iblis, dia adalah bayang-bayang Tuhan.
Karena sesungguhnya dengan merasa diri paling hebat dan paling sempurna diantara yang lainnya maka dia telah kafir, karena yang sempurna adalah Allah, keberadaan.
Hubungan murid dengan Guru adalah hubungan yang “Very personal” . Dulu seorang murid bersuka cita “karena” memperoleh sesuatu dari Sang Guru. Sekarang dia bersuka cita begitu saja.
Sahabat Saya Sigit Suryono Mengatakan dalam notenya yang berjudul Berkah Cinta Dalam Kasunyatan, Kesadaran kami belum stabil dan masih mudah goyah,banyak jebakan yang terbentuk dari mindset dan ego pribadi yang menghalangi, banyak hambatan yang menguji untuk mengikis ego. kepasrahan dan kepercayaan pada murshid adalah syarat mutlak untuk berkembang. semoga kita mampu melewati phase ini
Refrensi :
TANTRA YOGA – Anand Krishna – PT. Gramedia Pustaka Utama
Sumber: http://www.facebook.com/su.rahman.full
| Baca Juga : |
|---|
|















