Lho Kok masih Bisa Sakit ?
Ketika penyakit lama saya kumat, seorang teman datang menjenguk, teman yang sudah lama tak jumpa senang rasanya bertemu wajahnya lagi. Setelah berbasa basi sejenak, rupanya teman ku ini tak tahan akhirnya nyeletuk juga, “Lha katanya sudah mulai belajar meditasi, tapi kok masih sakit ?”
Agak terkejut juga mendengar Tanya itu, namun saya tertawa sambil terbatuk karena memang tenggorokan saya sakit kalau dibuat tertawa.
Teman itu melanjutkan, “Gurulu juga, itu siapa namannya yang orang India itu, Anand Krishna, ya Anand Krishna, gua liat di TV kemaren sehabis diperiksa polisi dia pingsan, kok bisa ?”
Untungnya seorang teman tadi pagi sudah bercerita tentang hal ini jadi saya tidak kaget, karena memang beberapa hari ini saya tidak lihat berita tv mau pun media online, log in ke FB juga ngga, karena memang harus beristirahat total.
Kembali saya tertawa dan terbatuk lagi. Saya jawab “Gua jawab ntar aja ya, lewat FB atao lewat blog gua, ntar gua imel ke elu lah, okay. Sekarang gua lagi asyik memperhatikan malekat maut di pojok sana”
“Hah ?”
“Emang lu ngga liat ?”
Wajahnya bingung
“Itu di pojok sono ?, yang berjubah warna warni dan memegang kunci”
Dan sayapun tertawa, sambil terbatuk, Teman saya itu mengerenyit bingung, sebelum ikut pula tertawa.
Temanku, ku tahu kita tak seiring sejalan, tetapi aku tetap menjadi sahabatmu. Dan terimakasih atas kunjunganmu sangat membantu dalam proses penyembuhan diriku.
Temanku, meditasi atau yoga tidak akan membuat manusia menjadi super men yang bebas dari penyakit, penyakit tetap bisa datang, hanya kondisi jiwa ketika menghadapi penyakit itu yang berbeda. Bapak Anand Krishna pernah berkata, “Terima segalanya tanpa harus mengeluh kenapa ini harus terjadi, jika memang harus sakit terima sakit itu tanpa harus aduh.. aduh……
Dan persis seperti itu temanku, pisik ku saat kemarin dan saat ini juga masih dalam kondisi yang tidak bagus, masih memliki keterbatasan, dibuat kerja 4 jam saja sudah kepayahan. Tetapi jiwaku tidak terkoyak oleh rasa sakit. Aku tetap berdiri dan tetap melakoni peranku tanpa berkeluh kesah.
Sebagai pembanding ketika saya mendapatkan penyakit ini 2 tahun lalu, saya mengaduh-aduh setiap 1 jam, merintih dan berkeluh kesah. Sekarang penyakit yang sama dan rasa sakit yang sama pula namun saya mengaduh 24 jam sekali, lumayan ada peningkatan, hahahaha
Mengenai guruku bapak Anand Krishna perlu di luruskan sedikit, aku memang menganggap beliau sebagai guruku, sebagai suri tauladan, karena beliau telah banyak merubah hidupku, dari beliau aku melihat warna-warni dunia dengan apa adanya dan mulai dapat mensyukuri tiap warna. Karena beliau akau memilki keberanian untuk menjadi diriku sendiri. Karena beliau aku menjadi memilki kepedulian terhadap Nusantara tercinta ini.
Namun apakah beliau menganggap aku sebagai murid, aku tak tahu. Karena memang tidak ada inisiasi, tidak ada pengangkatan. Beliau selalu mengatakan bahwa kami adalah sahabat-sahabat beliau, teman seperjalanan.
Selama masih berbadan, masih berjasad sekali lagi, penyakit sudah pasti datang. Sakit tidak dapat dihindari. Apalagi pada usia yang sudah lanjut. Tentu daya tahan pisik tidak seperti dulu waktu es em pe, sewaktu es em pe Cuma minum es teh manis ama makan lontong di katin masih kuat beraktifitas sampai magrib, dan pulang masih seger bugar. Tetapi begitu usia nambah, lain lagi persoalannya. Telat makan sedikit aja sudah bisa masuk angin. Apalagi diusia seperti beliau, dan diintrogasi oleh polisi selama itu, mungkin jika aku atau kamu yang mengalaminya sudah mati berdiri.........
Jadi temanku selama kita masih berbadan, masih berjasad sakit tidak mungkin dapat dihindari, meditasi justeru memberikan kesadaran akan hal itu, kesadaran bahwasanya ‘aku’ bukanlah jasad ini. Dan saat ini jasadku tengah menderita oleh penyakit, namun aku tetap dapat berkarya, masih dapat membuat website, masih dapat mendesign website, masih dapat menulis ala kadarnya dan yang terpenting masih dapat tertawa, aku ingin menutup catatanku ini dengan sebuah kisah sufi
Seorang pencari kebijaksanaan menghampiri seorang murid dan bertanya dengan penuh hormat: 'Apa makna hidup manusia?'
Murid itu lalu mempelajari tulisan Gurunya dan dengan yakin menjawab dengan kata-kata sang Guru sendiri: 'Hidup manusia tidak lain daripada ungkapan kelimpahan Tuhan.'
Ketika pencari kebijaksanaan itu bertemu dengan sang Guru sendiri, ia mengajukan pertanyaan yang sama. Sang Guru menjawab: 'Aku tidak tahu.'
Pencari kebijaksanaan berkata: 'Aku tidak tahu.' Hal itu menandakan kejujuran. Sang Guru berkata: 'Aku tidak tahu.' Hal itu menandakan pemikiran mistik, yang mengetahui segala sesuatu dengan cara tidak mengetahuinya. Murid berkata: 'Aku tahu.' Hal itu menandakan kebodohan dalam bentuk pengetahuan pinjaman.
Hahahaha so sahabat aku hanya dapat menjawab sebatas pengetahuan dan pengalamanku saja, jikalau ada hal yang ingin lebih kau dalamai silahkan kau datang ke Sunter, duduklah bersama bapak Anand Krishna dan jika kau dapat merasakan kasihnya seperti aku merasakan kasihnya, maka ikutilah bapak, namun jika tidak pergilah, dunia ini begitu luas dan tentunya Tuhan memberikan guru dibelahan lain, bergurulah dan ikutilah semua wejangannya, rasakanlah pengalamanmu sendiri bukan pengalaman yang kau dapat dari buku-buku dan diskusi filsafat yang pasti akan hancur lebur ketika kau di datangi malaikat maut yang ternyata sama sekali berbeda dari bayanganmu sang malaikat tidak menggunakan jubah hitam dan memegang golok raksasa, sang malaikat menggunakan jubah berwarna-warni dan memegang kunci .
Terimakasih bapak Anand Krishna dan keluarga besar Anand Ashram
Refrensi: Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994
| Baca Juga : |
|---|
|














