Fusce suscipit varius mim sociis natoque penatibus et magnis dis.

Just A Simple Blog, From A Simple Man

Di tahun 2013 ini saya merubah konsep blog surahman.com menjadi sebuah blog untuk kebutuhan tulis menulis, dimana di dalam blog ini nantinya saya ingin sharing tentang seputar dunia menulis.

ANAND-Krishna-Book-SigninSaya akan memulai dengan mereview gaya kepenulisan salah satu penulis favorit saya, Anand Krishna.

Saya mengenal karya-karya Anand di sekitar tahun 2000an, dan semangat Anand dalam berkarya menjadi inspirasi hidup buat saya untuk juga terus berkarya lewat tulisan. Hingga tahun 2013 ini Anand sudah menghasilkan kurang lebih 160an buku yang bertemakan tentang spiritual, meditasi, pendidikan dan kebangsaan.

Yang membuat Anand Krihna memiliki nilai lebih selain pada tema-tema yang diusung olehnya adalah pada gaya kepenulisannya, Anand memiliki gaya tersendiri. Dimana beliau mampu menterjemahkan pemahaman yang sifatnya abstrak menjadi lebih mudah dimengerti oleh pembacanya, lebih mudah dijamah. Saya rasa itu sebabnya kenapa orang suka dengan karya-karya Anand, karena Anand memberikan kesederhanaan di dalam pemahaman filsafat yang pada umumnya disampaikan dengan bahasa yang memusingkan.

Saya teringat dengan gaya kepenulisan Ernsest Hemingway yang juga menyajikan kesederhanaan dalam gaya kepenulisannya, namun kesederhanaan itu justeru yang membuat karya-karya Hemingway abadi. Ketika saya menulis artikel ini, saya sedang menggarap sebuah Novel. Di dalam novel ini saya sedang mencoba untuk membuat tulisan dengan gaya sederhana – karena selama ini ketika menggarap novel saya berkutat dengan bahasa yang mengawang-awang agar dibilang nyastra J, di dalam novel ini saya mencoba untuk merubah gaya kepenulisan tentunya hal tersebut terinspirasi oleh gaya kepenulisan Anand Krishna dan Hemingway.

Dan di dalam proses menulis novel tersebut saya menyadari dibutuhkan kejeniusan tersendiri untuk membuat tulisan dengan gaya sederhana seperti yang Anand lakukan, letak kesulitannya adalah pada penyajian kata per kata yang merangkai kalimat agar tetap dapat dicerna namun tidak mengurangi makna yang ingin disampaikan. Dibutuhkan kejeniusan tersendiri untuk membuat kalimat per kalimat mengalir tanpa kesan dipaksakan.

Dari 160an buku-buku Anand, saya mendapatkan satu buku yang memiliki gaya kepenulisan yang sedikit berbeda yaitu Indonesia under attack!: membangkitkan kembali jatidiri bangsa. Di dalam buku setebal 262 halaman tersebut Anand menyajikan monolog yang dengan tingkat penyajian yang menuntut pembacanya harus meraba-raba dan mencerna makna siratan dari dialog-dialog monolog yang di sampaikan penulisnya untuk menerangkan makna kebangsaan.

Sementara pada buku Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan, Anand memberikan kumpulan cerpen yang pernah dipublikasikan di surat kabar. Di dalam cerpen-cerpennya tersebut Anand menunjukan kesustraanya dimana cerpen-cerpennya menjadi sesuatu yang hidup. Sebagai penikmat karya-karya Anand mungkin saya tidak akan mengenali cerpen-cerpen di dalam buku tersebut sebagai karya Anand Krishna jika tidak ada namanya di cover buku.

Anand Krishna memiliki kepiawaian tersendiri sebagai seorang penulis dengan menguasai banyak gaya kepenulisan, menurut saya karya-karyanya akan abadi.  Indonesia harus berbangga memiliki pujangga sekaliber Anand, mungkin sekarang ini banyak yang menganggap karya-karya pria kelahiran solo ini biasa-biasa saja, tetapi saya berani menjamin  30 tahun ke depan, lihat apa kata generasi muda pada jaman itu tentang kejeniusan penulis yang satu ini.

Jakarta, 11 Januari 2013

Baca Juga