Fusce suscipit varius mim sociis natoque penatibus et magnis dis.

Just A Simple Blog, From A Simple Man

“Sesungguhnyalah pekerjaan membangunkan bangsa menghendaki syarat-syarat yang lebih penting : manusia bangsa itu sendiri satu persatu mesti tumbuh, tumbuh ke segala penjuru

(St. Takdir Alisjahbana)

indonesia-3Kebangkitan Nasional memiliki arti dimana bangkitnya rasa dan semangat persatuan, bapak bangsa kita sudah mengalami apa yang di sebut dengan kebangkitan nasional buktinya lahirnya 2 peristiwa penting Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Namun 2 peristiwa penting yang menjadi inspirasi dalam memperjuangan bangsa ini dari penjajahan hingga mampu berdiri sebagai suatu bangsa. Meski bangsa ini masih berdiri hingga saat ini namun sudah tidak tegak lagi, hal itu di sebabkan oleh api dari semangat berkebangsaan sudah hampir hilang. Pemaknaan semangat kebangsaan hanya di apresiasi lewat upacara bendera  yang di lakukan di sekolah-sekolah atau di instansi pemerintah. Sementara pengamalan semangat berkebangsaan digantikan dengan tindak korupsi dan kesewenang-wenangan sehingga amanat bapak bangsa terlupakan sudah.

Maraknya buah impor di pasar adalah merupakan sebuah tanda dari sudah hilangnya semangat berkebangsaan kita, maraknya kekerasan atas nama agama dan pengerusakan rumah ibadah adalah merupakan tanda dari kian merosotnya kesadaran berkebangsaan kita. Upacara dan seremonial kebangsaan yang kita lakukan sudah tidak memiliki jiwa lagi sehingga sudah tidak memberikan hasil apa-apa, seperti sebuah ritus keagamaan yang di jalankan, meski rutin namun tidak mampu memperbaiki khaddar keimanan  karena hanya di lakukan sebagai sebuah ritus belaka, tanpa api, tanpa jiwa. Lihat saja korupsi yang terjadi di department agama, apdahal mayoritas mereka di sana adalah orang yang beragama.

“Bangsa Indonesia sekarang harus memasak nasi. Soal yang pertama ialah menghidupkan api”

(St. Alisjahbana)

Mulai Dari Pendidikan Yang Mengutuhkan Jiwa

 “Marilah kita mengambil sebagai dasar Negara yang pertama : Kebangsaan Indonesia, Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa, bukan kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali atau lain-lain, tetapi kebangsaan Indonesia . . . .

. . .Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia. Kita bukan saja harus mendirikan Negara Indonesia Merdeka, tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa. Justeru inilah prinsip saya yang kedua”

(Soekarno)

Untuk dapat berbahasa persatuan terlebih dahulu harus di mulai dari jiwa yang utuh, karena jiwa yang utuh dimana-pun dan kapapun akan dapat berbicara tentang persatuan, hanya jiwa yang utuh yang dapat melihat persatuan dan kesatuan di balik perbedaan. Mpu Tantular sudah jauh-jauh hari menemukan hal tersebut  “Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa”, yang kemudian di gali kembali oleh bung Karno dan kemudian di jadikan falsafah bangsa.

Jiwa bung Karno sudah utuh dan beruntunglah bangsa kita karena mendapatkan pemimpin yang utuh jiwanya sehingga dapat membawa bangsa ini pada persatuan, pemikiran bung Karno saat ini menjadi pemikiran dunia, dimana saat ini dunia sedang memikirkan cara untuk mempersatukan bangsa-bangsa sehingga dapat terjalin kerjasama antar bangsa-bangsa  sehingga dapat tercapai kesejahteraan bersama. Namun semua pemikiran tentang kesatuan antar bangsa itu menjadi percuma ketika di dalam negeri sendiri tidak ada kesatuan, oleh karenanya bung Karno mengatakan mari kita membangun Kebangsaan Indonesia yang bulat terlebuh dahulu, baru kemudian menuju kepada persatuan antar negara-negara menjadi keluarga besar dunia. Hal tersebut harus di mulai dari pendidikan, pendidikan kita harus kembali berorentasi pada semangat berkebangsaan  bukan fanatisme sempit yang coba di susupkan lewat berbagai macam mata pelajaran dan juga peraturan-peraturan sekolah. Tanpa merubah itu anak bangsa ini tidak akan bangkit jiwanya, jiwanya kan tetap terlelap dan tetap kerdil. Sehingga mudah sekali di hasut oleh isu SARA yang sengaja di hembuskan untuk memecah belah kebersamaan dan kesatuan  kita sebagai satu bangsa.

Nasionalisme Menuju Internationalisme

Membangun Kebangsaan Indonesia yang bulat itulah terlebih dahulu yang harus di lakukan oleh bangsa ini jika ingin mendapatkan peran di dalam dunia International, kita tidak akan dapat berbicara di dunia international tentang kesatuan antar bangsa-bangsa jika di dalam negeri sendiri masih terjadi perpecahan , masih terjadi pengkotak-kotakan manusia ke dalam golongan ras, warna kulit dan agama.

“Sesungguhnyalah pekerjaan membangunkan bangsa menghendaki syarat-syarat yang lebih penting : manusia bangsa itu sendiri satu persatu mesti tumbuh, tumbuh ke segala penjuru

(St. Takdir Alisjahbana)

Bangun, dan tumbuh ke segala penjuru arah harus dimulai dari diri kita sendiri, kita harus kembali mempertanyakan kesadaran berkebangsaan kita, kita harus kembali mempertanyakan semangat berkebangsaan kita, kita harus kembali mempertanyakan komitmen kita terhadap kebangsaan kita.

Mulailah dari hal yang paling kecil, mampukah kita menyalami tetangga  yang berbeda agama ?, mampukah kita mengormati tetangga yang bermata sipit ?, mampukah kita duduk bersama, makan bersama, tertawa bersama tanpa dipersoalkan dan mempersoalkan warna kulit, suku, golongan dan agama ?.

“Hiduplah tanahku,

Hiduplah neg’riku,

Bangsaku, Rakyatku, semuanya,

Bangunlah jiwanya,

Bangunlah badannya,

 

= = = =

Di Publikasikan di :

http://www.surahman.com/

http://www.oneearthmedia.net/ind

http://www.facebook.com/su.rahman.full

http://www.kompasiana.com/surahman

Baca Juga